Suka Olahraga Bikin Standar Pasangan Jadi Tinggi? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

  • Saifan Zaking

Apakah kalian merupakan pribadi yang sulit menyukai seseorang jika mereka tidak memiliki kedisiplinan dalam hidupnya, seperti bangun siang, tidak punya rutinitas, atau malas bergerak. Bagi orang yang suka berolahraga, ternyata ini bukan kebetulan.


Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan ada mekanisme nyata di balik fenomena ini. Semakin aktif seseorang berolahraga, semakin tinggi pula standar yang ia terapkan terhadap calon pasangan, termasuk soal disiplin dan gaya hidup.


Studi yang Bicara Langsung


Penelitian yang diterbitkan di jurnal Evolutionary Psychological Science (2020) oleh Dobersek dkk. dari University of South Florida menjadi salah satu referensi untuk fenomena ini. Dalam studi bertajuk "Does Exercise Make Me More Attractive? Exploring the Relations Between Exercise and Mate Value", para peneliti melibatkan 265 mahasiswa yang diminta mengisi dua inventori, yaitu Exercise Habits Inventory (seberapa sering mereka olahraga) dan Mate Value Inventory (gambaran ideal pasangan yang mereka inginkan, sekaligus penilaian terhadap diri sendiri sebagai pasangan).


Hasilnya cukup mengejutkan. Orang yang lebih sering berolahraga, baik pria maupun wanita memiliki persepsi diri yang lebih tinggi sebagai pasangan potensial, dengan rata-rata skor 36,86 dibanding 34,18 untuk yang jarang olahraga. 


Dan yang paling penting ada korelasi positif yang signifikan antara penilaian diri sendiri dan gambaran pasangan ideal mereka. Artinya, semakin tinggi seseorang menilai dirinya, semakin tinggi pula standar yang ia pasang untuk pasangan.


Fenomena ini oleh para peneliti disebut konsisten dengan teori assortative mating, atau kecenderungan manusia untuk mencari pasangan yang "setara" dengan dirinya sendiri.


Apa Hubungannya dengan Olahraga?


Penelitian dari jurnal Social and Personality Psychology Compass (2017) mengkonfirmasi bahwa kesamaan antara pasangan ditemukan di berbagai domain, mulai dari demografis, fisik, perilaku kebiasaan, hingga kepribadian.


Ternyata ada kaitannya dengan olahraga, seseorang yang rutin ke gym atau lari pagi secara konsisten membangun identitas diri sebagai orang yang disiplin, terstruktur, dan punya kendali diri. Ketika standar diri naik, filter terhadap orang lain pun ikut naik. 


Seseorang yang tidak bisa bangun pagi atau melewatkan sesi latihan tanpa alasan jelas terasa seperti ketidakcocokan gaya hidup, bukan sekadar perbedaan hobi, tapi perbedaan nilai inti. Pasalnya, Kemiripan kemampuan fisik dan tujuan kebugaran adalah salah satu faktor utama yang menentukan daya tarik seseorang sebagai teman olahraga dan efek ini meluas ke konteks hubungan romantis.


Konflik yang Sering Terjadi di Hubungan Nyata


Banyak riset juga mencatat dinamika yang muncul ketika dua orang dalam satu hubungan punya tingkat aktivitas fisik yang berbeda. Studi yang dipublikasikan di Journal of Sports Medicine and Physical Fitness menemukan bahwa orang yang bergabung ke program kebugaran bersama pasangan jauh lebih konsisten bertahan dibanding yang datang sendiri.


Sebaliknya, ketika hanya satu pihak yang berubah untuk mulai aktif berolahraga sementara yang lain tidak, ketegangan hubungan bisa muncul. Penelitian kualitatif tentang pasangan dan olahraga kekuatan merekam banyak kesaksian nyata, salah satu pihak merasa terancam, insecure, atau bahkan curiga, ketika pasangannya tiba-tiba mulai mengubah gaya hidup. Ketidaksesuaian gaya hidup ini menjadi salah satu sumber friksi yang sering diremehkan.